Pojok Terakhir | tentang Ketulusan Tanpa Pamrih

15 October 2026 · Oleh: Edhi_np · 3 pengunjung

Pojok Terakhir | tentang Ketulusan Tanpa Pamrih

Pojok Terakhir

Asap rokok tipis mengepul pelan dari jari Riko yang nyaris tidak dihisap — hanya dipegang, seperti sesuatu yang perlu ia genggam agar tangannya tidak gemetar.

Ia duduk di kursi plastik putih di sudut paling belakang tenda, seorang diri. Di depannya, ratusan tamu hilir mudik. Musik dangdut koplo menghentak. Lampu warna-warni berkelip di atas pelaminan tempat sepupunya — Galang — bersanding dengan senyum paling bahagia yang pernah ia lihat.

Riko ikut senang. Sungguh.

Tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak tadi pagi — sesuatu yang berat dan diam, seperti batu yang tidak punya nama.

Seminggu sebelum hari ini, Pak De Warno meneleponnya malam-malam.

“Ko, kamu yang jemput tamu dari stasiun ya. Kamu kan punya mobil.”

Bukan pertanyaan. Tapi Riko mengiyakan. Sudah terbiasa

Dua hari ia bolak-balik ke stasiun — pagi, siang, malam. Bensin habis hampir tiga ratus ribu. Tidak ada yang bertanya berapa, tidak ada yang menawarkan ganti. Dan ia tidak berani meminta, karena di keluarga ini ada kode tak tertulis yang semua orang tahu tapi tidak pernah diucapkan — yang paling mampu tidak boleh mengeluh.

Padahal mampu di sini hanya berarti ia punya mobil tua keluaran dua ribu delapan yang pajaknya menunggak dua tahun.

Kemarin malam, ia datang pukul tujuh untuk bantu pasang tenda bersama para lelaki dari kampung. Angkat kursi, susun meja, bentangkan karpet merah. Jam dua belas malam baru selesai. Mas Hendra — kakak sepupu dari pihak yang dianggap lebih berada — datang pukul sepuluh, mengawasi sebentar sambil minum kopi, lalu pulang pukul sebelas dengan alasan anaknya demam.

Riko tidak pulang. Ia tidur di tikar belakang dapur bersama dua orang kerabat jauh yang bahkan namanya belum ia tahu.

Pagi ini, sebelum subuh, ia sudah bangun lagi.

“Riko, bantu parkir ya.”

“Riko, ini tamunya belum ada yang sambut.”

“Riko, tolong ambilkan kursi tambahan, yang di gudang belakang.”

Namanya disebut berkali-kali sepanjang pagi — tapi selalu dalam kalimat perintah, tidak pernah dalam kalimat terima kasih.

Ia kerjakan semuanya. Tanpa banyak bicara. Karena begitulah caranya mencintai keluarga — diam-diam, dari belakang, tanpa tanda tangan.

Jam sebelas siang, ketika matahari sudah garang dan tenda mulai penuh, Pak De Warno lewat di depannya dengan setelan beskap cokelat tua yang rapi. Riko berdiri, sedikit membungkuk hormat.

Pak De menepuk bahunya. “Makasih ya, Ko.”

Hanya itu. Pak De sudah berlalu menyalami tamu lain sebelum Riko sempat menjawab.

Tapi Riko menyimpan dua kata itu. Digenggam pelan dalam hati, seperti koin receh yang tetap berharga karena memang hanya itu yang ada.

Acara akad berlangsung khidmat. Riko berdiri di deretan paling belakang ruangan, mengintip dari sela-sela kepala orang dewasa yang berdesakan di depan. Ketika ijab kabul diucapkan Galang dengan suara mantap dan sekali ucap, seluruh ruangan bergemuruh takbir.

Riko ikut bertakbir. Matanya memanas.

Bukan karena iri. Bukan karena ia tidak menemukan kebahagiaannya sendiri. Tapi ada sesuatu yang aneh — menyaksikan momen paling sakral dalam hidup seseorang yang ia panggil saudara, dari pojok ruangan, di antara orang-orang yang bahkan tidak tahu siapa dirinya.

Beginikah posisiku di keluarga ini? pikirnya. Selalu di pojok. Selalu di belakang. Selalu cukup dekat untuk diminta tolong, tapi selalu terlalu jauh untuk dianggap bagian dari cerita.

Sesi foto keluarga dimulai setelah makan siang.

Fotografer bersetelan hitam itu mengatur barisan dengan penuh semangat. “Keluarga inti dulu! Bapak, Ibu, pengantin, saudara kandung!” Semua bergerak. Pak De Warno di tengah dengan senyum kemenangan. Bu De Lastri di sampingnya dengan kebaya ungu yang megah. Galang dan istrinya bersanding di depan.

Lalu fotografer itu berteriak lagi. “Tambah! Keluarga besar! Ayo semua maju!”

Riko melangkah maju.

Mas Hendra sudah duluan di baris kedua, tersenyum lebar. Mbak Reni dari Surabaya sudah berpose anggun. Beberapa sepupu lain mengisi celah-celah yang ada.

Riko mencari celah. Tidak ada.

Ia berdiri sedikit di pinggir, setengah masuk setengah tidak, ketika blitz menyala.

Klik.

Ia tidak tahu apakah wajahnya masuk atau tidak.

Tidak ada yang peduli untuk memastikan.

Sambutan keluarga dibacakan oleh seorang paman yang suaranya berat dan berwibawa.

“Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh saudara yang telah hadir dan membantu kelancaran acara ini. Terkhusus kepada Mas Hendra yang telah banyak berkorban tenaga dan pikiran, kepada Mbak Reni yang telah mengurus koordinasi konsumsi, dan kepada semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu…”

Riko menunggu.

Satu detik. Dua detik. Lima detik.

”…semoga Allah membalas kebaikan kalian semua.”

MC sudah berpindah ke sesi hiburan.

Riko menunduk. Menatap ujung sepatunya yang sedikit kotor karena sejak pagi tak sempat ia bersihkan. Sudut matanya terasa panas — ia kedipkan keras-keras, karena laki-laki tidak boleh menangis di hajatan orang.

Ia justru hampir tertawa. Hampir — karena ada sesuatu yang lucu sekaligus menyedihkan dari situasi ini. Bahwa ia bisa begitu tidak terlihat padahal bekerja begitu keras untuk membuat segalanya terlihat indah.

Di pojok belakang tenda itulah ia akhirnya duduk.

Rokok yang hampir tidak sempat dihisap. Gelas air putih yang sudah hangat. Dan pikiran yang berputar pelan seperti kipas angin tua di sudut ruangan — tidak kencang, tapi tidak bisa berhenti.

Ia teringat ibunya — perempuan sederhana yang meninggal tiga tahun lalu tanpa pernah sempat melihat anaknya dihargai di keluarga besar ini. Ibunya dulu juga begitu. Selalu yang paling rajin datang di setiap hajatan. Selalu yang paling banyak membawa sumbangan meski hidupnya paling pas-pasan. Dan selalu yang paling sedikit disebut namanya dalam doa syukuran.

“Tidak apa-apa, Ko,” kata ibunya suatu ketika, ketika Riko kecil bertanya mengapa mereka tidak pernah duduk di meja depan. “Yang penting kita hadir. Yang penting kita tidak pernah tidak datang ketika saudara butuh.”

Riko dulu percaya itu.

Sekarang, ia tidak tahu lagi apakah itu kebijaksanaan — atau kepasrahan yang terlanjur disebut keikhlasan.

“Mas Riko.”

Ia menoleh.

Seorang anak kecil berdiri di depannya — perempuan, mungkin delapan tahun, dengan gaun pink dan rambut dikepang dua. Anak siapa, Riko tidak langsung ingat.

“Mas Riko yang kemarin antar Nenek Sumi dari stasiun, ya?”

Riko mengangguk pelan. “Iya.”

Anak itu tersenyum — senyum tanpa pretensi, senyum yang belum belajar berbohong. “Nenek Sumi bilang Mas Riko baik banget. Sabar nunggu nenek lama di stasiun. Nenek sampai nangis waktu cerita ke Mama.”

Riko terdiam.

Tenggorokannya tiba-tiba terasa sesak.

Anak itu sudah berlari kembali ke arah ibunya sebelum Riko sempat berkata apa-apa.

Ia menatap punggung kecil itu. Gaun pink yang berkelebat di antara kaki-kaki orang dewasa. Lalu menghilang di balik keramaian

Malam mulai turun. Lampu-lampu tenda menyala lebih terang. Musik berganti ke lagu-lagu slow yang membuat beberapa pasang tamu berdiri dan bergoyang pelan.

Riko berdiri dari kursinya. Meluruskan kemeja putihnya yang sedikit kusut. Memandang sekali lagi ke arah pelaminan — Galang sedang tertawa bersama istrinya, dikelilingi tamu-tamu yang mengucapkan selamat.

Ia tersenyum.

Kali ini senyum yang sedikit lebih tulus dari tadi.

Bukan karena sakitnya sudah hilang. Tapi karena ia teringat kata-kata Nenek Sumi yang diceritakan anak kecil tadi — dan ia sadar bahwa kebaikan tidak selalu dicatat oleh orang yang tepat, tidak selalu disebut di mikrofon, tidak selalu masuk ke dalam foto.

Tapi kebaikan tidak pernah benar-benar hilang.

Ia tetap ada — mengendap dalam ingatan Nenek Sumi yang matanya sudah rabun, dalam cerita kecil yang dibawa seorang anak berambut kepang kepada ibunya, dalam doa-doa sunyi yang tidak pernah ada di sambutan resmi manapun.

Riko mengambil gelas air putihnya yang sudah hangat itu, menghabiskannya dalam satu tegukan.

Lalu ia berjalan — kembali ke keramaian, kembali ke tempat-tempat yang membutuhkannya tanpa pernah benar-benar mengenalnya.

Masih ada kursi yang perlu dirapikan.

Masih ada tamu yang perlu diarahkan ke pintu keluar.

Dan esok pagi, ketika semua orang pulang dan tenda dibongkar, ia tahu — ia yang akan datang paling awal untuk membantu membereskan semuanya.

Bukan karena tidak ada pilihan lain.

Tapi karena begitulah ia mencintai — diam, tekun, dan tanpa meminta untuk dimengerti.

Di pojok terakhir itu, tidak ada yang tahu bahwa malam ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Riko berbicara kepada ibunya dalam hati:

“Bu, aku masih di sini. Masih hadir. Masih belum pergi.”

Dan entah mengapa, angin malam yang menyentuh wajahnya terasa seperti jawaban.

— Tamat —

Berita Lainnya